"Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami, sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami."
RSS

Senin, 26 Oktober 2015

Aku pun (pernah) mencontek!

Ini pengalamanku dalam pencarian jati diri. Pengalaman ‘kelam’ yang  tak ingin aku ulangi! Mungkin banyak diantara kalian nanti yang mengangap aku sok. Tapi, dalam tulisan ini, aku hanya ingin berbagi, bagaimana aku keluar dari belenggu ‘setan’ itu.

Sejak sekolah dasar, sebenarnya aku sudah tahu dan paham betul mencontek itu tak baik. Dan aku tak belum melakukannya. Hanya sekedar memberikan jawaban kepada teman yang bertanya. Itu pun hanya karena terpaksa karena saat itu sedang Ujian Nasional. Dalam hati hanya ingin aku dan mereka lulus bersama.

Kecuranganku ini berawal ketika aku duduk di bangku SMP. Tapi anehnya, hanya pada satu mata pelajaran, yang tak bisa aku sebutkan. Kurangnya penghargaan dari guru dan kurangnya motivasi membuatku melakukannya. Bermula tatkala ulangan harian berlangsung dan aku menyaksikan sendiri ada teman yang mencontek kala itu. Dia dari SD elit ternyata juga mencontek ya? Pikirku saat itu. Ah, ya sudahlah.

Seminggu setelah itu, hasil ulangan harian dibagikan dan aku mendapat nilai rendah. Saat dipanggil dan menerima hasilnya, sang guru berkata, “Yang lain bisa dapat bagus kok kamu enggak?!” Seketika itu aku tersentak, walaupun bukan aku satu-satunya yang mendapat nilai rendah, bagiku itu umpatan halus yang sampai sekarang masih membekas di benakku. Oke, kalau itu mau guru, aku akan dapat nilai baik!

Sangat disayangkan waktu itu, aku tidak ada pegangan sama sekali. Terlalu kabur dengan apa itu pedoman hidup. Dan akhirnya saya masuk pada lubang itu. Lubang mencontek. Selama kurang lebih dua setengah tahun, aku melakukan kecurangan itu. Namun, aku tidak serta-merta hanya mencontek. Ada usaha untuk mencatat segala materi yang di sampaikan guru. Dan aku hanya ingin mencontek menggunakan catatanku sendiri.

Aku mulai berpikir ulang mengenai kecuranganku manakala seorang guru mengatakan, “Kalau saya jadi pengawas ujian di SMP *****, walaupun tingkat kelulusannya tidak setinggi sekolah kita, tapi saya merasa enak. Tinggal kemana-mana nggak mungkin ada yang mencontek. Soalnya dalam diri mereka sudah tertanam bahwasanya ketika ada teman yang mencontek itu setan. Dan kalau saya ikut-ikutan berarti saya juga setan. Lebih baik nggak lulus ujian dari pada saya harus menjadi ‘setan’.”

Kata-kata itu sontak membuatku membatu. Berhari-hari aku berpikir. Langkah awal ketika memutuskan untuk tidak mencontek lagi sangatlah berat. Hampir kembali terlena, namun, ketika ingat kata-kata tadi aku menguat lagi. Dan berkomitmen untuk tidak mencontek lagi.

Dan alhamdulillah, aku mampu menjalaninya dengan bantuan dari Allah dan menjaga komitmen. Di sini aku tidak menyudutkan pihak-pihak mana pun. Satu tujuan utamaku: ingin merubah budaya  ‘setan’ ini. Pun aku bukan ingin membanggakan diri tapi aku hanya ingin berbagi sepenggal pengalaman kelamku dulu. Mari, bersama-sama belajar untuk senantiasa memperbaiki diri.

Semoga bisa menjadikan manfaat J


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS