Check this out!!!
Latar Belakang Musik Melayu Jambi
Kalau
kita berbicara tentang Jambi, daerah ini memiliki kekayaan seni budaya daerah
yang beraneka ragam terutama tentang jenis musik tradisionalnya yang cukup
banyak. Kekayaan ini disebabkan oleh sembilan Suku Melayu yang hidup dan
berkembang di daerah tersebut. Dari sembilan Suku Melayu ini terbagi atas dua
bagian yakni: Suku Melayu Tua dan Suku Melayu Muda. Suku Melayu Tua terdiri
dari tiga suku, yaitu: Suku Kerinci, Suku Batin, dan Suku Kubu. Sedangkan Suku
Melayu Muda terdiri dari enam suku yaitu: Suku Melayu Jambi, Suku Bajau, Suku
Penghulu, Suku Pindah, Suku Pendatang dan Suku Asing, seperti: Cina, Arab,
Amerika, dan lain-lain. Dari pengaruh inilah, maka lahir berbagai macam bentuk
musik tradisional di Jambi yang memiliki karakteristik bunyi yang khas dan
berbagai bentuk instrument musik yang unik, seperti Rebana Sike yang jenis dap,
Cangor yang di Kabupaten Kerinci disebut Ketuk Gong, sedangkan di Kota Sungai
Penuh disebut Gumbe-Gumbe.
Dikarenakan
Musik Jambi dihidupkan dan dikembangkan oleh suku-suku yang secara garis besar merupakan
Suku Melayu, maka musik tradisional Jambi lebih dikenal dengan Musik Melayu
Jambi.
Fakhrudin
Saudagar mengatakan bahwa Kebudayaan
Melayu Jambi adalah salah satu contoh kebudayaan yang kaya dengan seni. Karena
akar budayanya berbeda dengan daerah
lain, maka arah dan perkembangan kesenian Melayu Jambi berbeda pula dengan
kesenian daerah lain. Karakteristik lokal Kesenian Melayu Jambi antara lain adalah
:
1.
Menyatu
dengan alam.
2.
Minoritas
kreatifnya warga masyarakat.
3.
Mayoritas
kreatifnya adalah raja, pejabat kerajaan, dan masyarakat umum.
4.
Tema
berkaitan dengan keindahan alam, penderitaan, cinta, perjuangan, persahabatan,
ketidakadilan, kebahagiaan dan lain sebagainya.
5.
Melambangkan
keriangan (gembira) lincah, sedih, semangat, sakral (mistik), dll.
6.
Kerajaan
melindungi kelompok fungsional kesenian (kalbu pemayung).
7.
Tidak
jelas pengarangnya.
8.
Berkembang
dari dusun ke dusun dan dari mulut ke mulut.
9.
Penuh
(sarat) pesan; pendidikan, aturan hidup, hiburan, dan lain-lain.
Ketika
instrumen musik daerah Jambi ini dipadukan menjadi satu kesatuan unsur bunyi,
dengan teknik komposisi yang baik, maka akan menghasilkan garapan musik yang
baik pula. Untuk mencapai hasil tersebut, maka hendaklah mengenal terlebih
dahulu instrument musik yang akan digarap.
Dari
beberapa macam instrumen musik tradisional Jambi, yang lebih dominan di daerah
Jambi adalah jenis pukul dengan sebutan lain perkusi. Di samping mudah dalam
penggunaannya, bahan-bahan yang digunakan pun banyak terdapat di daerah Jambi.
Seperti kayu, bambu, dan kulit hewan. Di antara alat-alat musik yang jenis
pukul ini, terdapat beberapa instrumen yang dapat digunakan sebagai melodi
seperti, kelintang kayu dan kromong. Dari instrument inilah kita temukan bahwa
tangga nada musik tradisional daerah Jambi terdiri dari do, re, mi, sol, dan
la. Pada jenis instrumen yang lain juga demikian, seperti nada-nada yang
terdapat pada alat tiup yakni: serdam, serunai dan katete. (http://azharjambi.blogspot.com).
Latar Belakang Sejarah Musik Tradisi Sirih Layang
Jambi
Salah
satu musik yang hidup dan berkembang di daerah Jambi adalah Musik Tradisi Sirih
Layang. Musik ini adalah musik hasil kebudayaan Suku Kubu, salah satu dari tiga
Suku Melayu Tua.
Musik
Tradisi Sirih Layang Jambi ini hidup dan dikembangkan oleh Suku Kubu. Suku Kubu
atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu
suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi
dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di Provinsi Jambi, dengan
perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang. (http://id.wikipedia.org).
Kehidupan
Suku Anak Dalam sangat dipengaruhi oleh aturan-aturan hukum yang sudah
diterapkan dalam bentuk seloko-seloko yang secara tegas dijadikan pedoman hukum
oleh para pemimpin suku, khususnya Tumenggung dalam membuat suatu keputusan.
Seloko juga menjadi pedoman dalam bertutur kata dan bertingkah laku serta dalam
kehidupan bermasyarakat Suku Anak Dalam.
Musik
Tradisi Sirih Layang Jambi berisi bait-bait seloko. Seloko adalah mantra-mantra
yang dilantunkan menjadi teks musikal. Berikut ini sepenggal mantra yang terdapat
dalam Musik Tradisi Sirih Layang Jambi.(http://you-litha.blogspot.com).
Oooo... sirih Layang
Jambi pinang Layang Jambi
Sirih kuning
gagah merkah
Hati gilo
dibuatnyo
Sirih kuning
gagang kuning
Hati gilo
dibuatnyo..
Biasanya
musik ini disajikan bersamaan dengan tarian, yaitu Tari Sirih Layang Jambi
Pekasih dalam Upacara Basale. Upacara ini merupakan upacara pengobatan
tradisional yang bertujuan untuk membersihkan atau mengusir roh jahat yang
dianggap sebagai sumber penyakit dari jiwa si sakit.
Latar Belakang Sosial Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Sistem
kepercayaan Suku Anak Dalam adalah Polytheisme,
yaitu mereka mempercayai banyak dewa. Dan mereka mengenal dewa mereka dengan
sebutan Dewo dan Dewa. Ada dewa yang baik adapula dewa yang jahat. Selain
kepercayaan terhadap dewa mereka juga percaya adanya roh nenek moyang yang
selalu ada disekitar mereka. Selain itu, Suku Anak Dalam masih berpaham
animisme. Mereka percaya bahwa alam semesta memiliki banyak jenis roh yang
melindungi manusia. Jika ingin selamat, manusia harus menghormati roh dan tidak
merusak unsur-unsur alam, seperti hutan, sungai, dan bumi. Kekayaan alam bisa
dijadikan sumber mata pencarian untuk sekadar menyambung hidup dan tidak
berlebihan. Hingga kini suku Anak Dalam masih mempertahankan beberapa etika
khusus.
Perilaku
Suku Anak Dalam atau Orang Rimba yang kubu atau terbelakang, dikarenakan nenek moyang
mereka hidup di tengah hutan beratus-ratus tahun dan tidak mengenal peradaban.
Kehidupan mereka sangat dekat dan bergantung pada alam. Karena tidak dekat
dengan peradaban dan hukum modern, Orang Rimba memiliki sendiri hukum rimba.
Mereka menyebutnya seloko adat. Identitas Orang Rimba yang tertuang lewat seloko,
yang membedakannya dari orang terang – sebutan untuk masyarakat di desa. Seloko
secara tegas dijadikan pedoman hukum oleh para pemimpin Suku dalam membuat
suatu keputusan. Seloko juga menjadi pedoman dalam bertutur kata dan bertingkah
laku serta dalam kehidupan bermasyarakat Orang Rimba.
Seloko
yang muncul lewat mimpi juga memberi panduan mengenai hidup sosial di rimba.
Aturan-aturan Orang Rimba memang tidak jauh dari Pucuk Undang Nang Delapan,
yang dibawa dari minang. Aturan rimba sendiri melarang adanya pembunuhan,
pencurian, dan pemerkosaan. Inilah larangan terberat, yang jika dilanggar akan
dikenai hukuman 500 lembar kain. Jumlah kain sebanyak itu dinilai sangat berat,
dan sangat sulit disanggupi, karenanya Orang Rimba berusaha untuk mematuhi. (http://delvinet.wordpress.com).
Penyajian Musik Tradisi Sirih Layang
Jambi
Pertunjukkan
Musik Tradisi Sirih Layang Jambi disajikan oleh enam orang pemain. Pertunjukkan
ini dibuka dengan lantunan seloko, tanpa diiringi musik. Setelah itu diikuti
dengan pemukulan gong, ‘penggoyangan’ arang ayun, serta penabuhan redap
(gendang Melayu). Arang ayun, yakni alat yang berbunyi bergemerincing berbentuk
bulat dengan warna hitam. Arang ayun terbuat dari tembaga. Arang ayun berfungsi
untuk merangsang semangat budak (anak kecil yang sakit). Sedangkan redap adalah
alat musik pukul, yang dimainkan dengan cara ditabuh pada saat pelaksanaan dalam
Upacara Besale. Redap ditabuh oleh Malim Pembantu atau biduan yang berjumlah
ganjil. Redap terbuat dari bahan kulit hewan kambing. Alat ini digunakan untuk
mengiringi tarian dan mantra dalam Upacara Besale. Suara redap diyakini akan
memanggil roh-roh leluhur.
Pertunjukkan
Musik Tradisi Sirih Layang Jambi yang saya saksikan, ternyata berbeda dengan
Musik Tradisi Sirih Layang Jambi yang digunakan untuk mengiringi tarian Sirih
Layang Pekasih, dimana Musik Tradisi Sirih Layang Jambi yang saya saksikan menggunakan
beberapa tambahan instrument alat musik lain, seperti: gong, rebana, kromong, dan suling. Sedangkan pada musik
yang digunakan untuk mengiringi tarian Sirih Layang Pekasih hanya menggunakan
instument berupa: redap dan arang ayun. Namun, dari segi irama dan ritme tidak
jauh berbeda. Sedangkan seloko-seloko yang yang dilantunkan sama. Hal tersebut
mungkin dikarenakan pertunjukkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi hanya berdiri
sendiri sebagai pertunjukkan musik, jadi mesti ‘digarap’ sedemikian rupa, dengan
harapan agar lebih menarik. Dan hal itu terbukti berhasil. Pertunjukkan Musik
Tradisi Sirih Layang Jambi sangatlah menarik.
Pertunjukkan
Musik Tradisi Sirih Layang Jambi juga didukung dengan adanya lighting yang menambah kesan mistik.
Suasana panggung sangat menyatu dengan musik yang dimainkan dan seloko yang
dilantunkan. Di samping itu, tata rias para pemain juga sangat mendukung kesan
mistik. Wajah para pemain ber-make-up
tebal dan berwarna putih serta tatapannya merupakan tatapan yang fokus dan
melotot.
Fungsi Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Dalam
keberagaman musik, Musik Tradisi Sirih Layang Jambi memiliki fungsi musik
sebagai fungsi ritual musik, fungsi artistik musik,dan fungsi medis. Musik
Tradisi Sirih Layang Jambi memiliki fungsi ritual maksudnya, musik ini
dipergunakan untuk keperluan Upacara Besale, yaitu upacara pengobatan
tradisional yang bertujuan untuk membersihkan atau mengusir roh jahat yang
dianggap sebagai sumber penyakit dari jiwa si sakit. Kemudian, Musik Tradisi
Sirih Layang Jambi memiliki fungsi artistik maksudnya, musik ini dipergunakan
pula sebagai pendukung Tarian Sirih Layang Jambi Pekasih. Sedangkan Musik
Tradisi Sirih Layang Jambi memiliki fungsi medis karena, awal kalinya adanya
musik ini adalah sebagai media pengobatan Suku Kubu.
Ternyata
semakin berkembangnya zaman, musik ini dapat berdiri menjadi musik pertunjukkan
sendiri, tanpa perlu adanya tarian dan upacara. Namun, tetap saja, ketika musik
ini berada di dalam area Suku Kubu, fungsi musik ini akan kembali seperti sedia
kala.
Klasifikasi Jenis Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Musik
dapat diklasifikasikan menjadi tiga klasifikasi, yaitu klasifikasi jenis musik
berdasarkan unsur yang disajikan, klasifikasi jenis musik berdasarkan jumlah
penyajinya dan perangkatnya, dan klasifikasi jenis musik berdasarkan latar
sosialnya.
Berdasarkan
unsur yang disajikan, Musik Tradisi Sirih Layang Jambi termasuk jenis musik
campuran, karena musik ini menyajikan permainan alat musik dan vokal, dimana
antara permainan alat musik dan sajian vokal menjadi satu kesatuan. Kemudian, berdasarkan
jumlah penyajiannya dan perangkatnya, Musik Tradisi Sirih Layang Jambi termasuk
jenis musik ansambel kecil, karena musik ini hanya disajikan oleh enam orang
pemain dan enam jenis alat musik, yaitu: redap, rebana, gong, arang ayun,
suling, dan kromong. Sedangkan berdasarkan latar sosialnya, Musik Tradisi Sirih
Layang Jambi termasuk jenis musik kerakyatan, karena musik ini hidup dan
dikembangkan oleh Suku Anak Dalam yang menerapkan budaya berburu, sistem
barter, dan juga bercocok tanam untuk kelangsungan hidup mereka dan mereka
termasuk suku yang menganut sistem hidup seminomaden karena kebiasaan
berpindah-pindah yang mereka lakukan, yang tentunya hal tersebut sangat
mencirikan keterkaitan kehidupan mereka dengan lingkungan alam.
Alat Musik yang Digunakan dalam Musik Tradisi Sirih
Layang Jambi
Alat musik yang digunakan dalam Musik
Tradisi Sirih Layang Jambi adalah redap, arang ayun, gong, kromong, rebana, dan
suling.
Redap atau gendang Melayu Jambi memiliki
karakteristik bentuk maupun bunyi yang khas, gendang ini terbuat dari bongkot
kelapa dan kulitnya dari kulit hewan ternak seperti kambing. Jalinan rotan berfungsi untuk mengencangkan kulit
gendang tersebut. Gendang dimainkan
dengan cara dipukul menggunakan kedua tangan sambil dipeluk dalam posisi duduk.
Agar bunyinya lebih nyaring pada lingkaran kulit bagian dalam dipasak dengan
menggunakan rotan bulat disebut sentung.
Di Provinsi Jambi gendang ini lazimnya digunakan untuk polaritme
lagu-lagu daerah serta pengiring tari, serta lagu-lagu melayu jambi.
Arang ayun, yakni alat yang berbunyi
bergemerincing berbentuk bulat dengan warna hitam. Arang ayun terbuat dari
tembaga. Ada dua jenis arang ayun, yaitu Arang Ayun yang berjumlah lima buah
diletakkan di balai pengasuh, sedangkan yang berjumlah delapan buah di bawa
menari oleh Sidi.
Gong terbuat dari logam pipih dengan benjolan
di tengahnya. Instrument ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat
pemukul yang terbuat dari kayu.
Kromong adalah alat musik tradisional
Melayu Jambi yang terbuat dari campuran perunggu dengan jenis metal lainnya,
dimainkan dengan cara dipukul memiliki tangga nada selendro digunakan untuk
mengiringi tari dan musik tradisional Melayu Jambi.
Rebana adalah sebuah instrument musik
yang terbuat dari kayu surian dengan menggunakan kulit kambing sebagai kulit
tabuahannya, dan tidak menggunakan rotan yang dijalin pada pengencang kulitnya,
melainkan paku penatah atau paku payung
yang dipakukan dibagian lingkaran kulit.
Suling merupakan instrumen ini yang terbuat
dari bambu dan sudah terkenal dimana-mana, dimainkan dengan cara ditiup
memiliki nada yang lengap dengan tangga nada diatonis, dan kromatis.
Klasifikasi Alat Musik Musik Tradisi Sirih Layang
Jambi
Dalam
setiap pertunjukkan musik, hampir sebagian besar menggunakan alat musik. Menurut
Sach & Hornbostel, klasifikasi alat musik didasarkan pada sumber bunyinya,
bahan pembuatnya, dan cara memainkannya.
Berdasarkan
sumber bunyinya, alat musik yang digunakan untuk memainkan Musik Tradisi Sirih Layang
Jambi, terdiri dari alat musik yang tergolong idiophone, membranophone, dan
aerophone. Idiophone adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari badan
alat musik itu sendiri, yaitu meliputi: gong, kromong, dan arang ayun.
Kemudian, membranophone adalah alat musik yang menggunakan membran sebagai
penggetar utama bunyinya, yaitu meliputi: redap dan rebana. Sedangkan,
aerophone adalah alat musik yang memanfaatkan getaran udara sebagai sumber
utama bunyinya, yaitu suling.
Berdasarkan
bahan pembuatannya, alat musik yang digunakan untuk memainkan Musik Tradisi
Sirih Layang Jambi, terdiri dari alat musik yang tergolong xilophone,
metallophone, dan bamboophone. Xilophone
adalah alat musik yang bahan pembuatannya berbahan kayu, yaitu meliputi: redap,
rebana. Kemudian metallophone adalah alat musik yang bahan pembuatannya
berbahan logam, yaitu meliputi: gong, arang ayun, dan kromong. Sedangkan bamboophone
adalah alat musik yang bahan pembuatannya berbahan bambu, yaitu suling.
Berdasarkan
teknik membunyikannya, alat musik yang digunakan untuk memainkan Musik Tradisi
Sirih Layang Jambi, terdiri dari alat musik yang dipukul, ditiup, dan digoyang.
Alat musik yang dipukul meliputi: redap, rebana, gong, dan kromong. Kemudian
alat musik yang ditiup adalah suling. Sedangkan alat musik yang digoyang adalah
arang ayun.
Kesimpulan
Secara
umum pertunjukkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi yang saya saksikan sangatlah
menarik. Semua unsur yang ada dalam pertunjukkan tersebut dapat melebur menjadi
satu membentuk satu kesatuan yang penuh dengan keindahan. Para pemain telah
berhasil membawakan pertunjukkan musik tradisi ini tanpa terlihat cacat
sedikitpun.
Penyajian
pertunjukkan yang berbeda dari musik yang lama telah ada merupakan suatu
inovasi baru untuk membuat musik ini lebih menarik minat masyarakat untuk
menyaksikan, apalagi anak muda yang menganggap musik tradisi terdengar monoton,
lamban, dan bikin mengantuk. Di samping itu, musik ini pun dapat disaksikan
tanpa harus kita pergi ke tempat Suku Kubu.
Kemudian,
dengan semakin bervariasinya instrument musik yang digunakan semakin menambah
keragaman musik tradisi ini. Dan itu nantinya dapat menggugah masyarakat bahwa
Indonesia itu kaya akan seni budaya yang tentu saja harus dilestarikan. Walaupun
semakin berkembangnya zaman, musik ini nantinya mungkin dapat berada di
panggung-panggung berskala nasional maupun internasional, namun kita harus
tetap mengetahui esensi dari musik ini.
Yang
terakhir, besar harapan saya, dimana musik tradisi ini dapat dipertunjukkan di
berbagai ‘temu-temu budaya’ di Indonesia, karena hal itu merupakan langkah awal
dalam memperkenalkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi kepada masyarakat luas,
namun, tidak lupa dengan musik tradisi-tradisi lain yang hidup dan berkembang
di Indonesia yang juga harus kita perkenalkan. Jadi intinya, di setiap
kesempatan kita harus mengenalkan budaya-budaya yang ada di Indonesia dengan
harapan budaya-budaya tersebut dapat lestari dan berkembang.
Daftar Acuan
1. Apa
sich yang kamu tau tentang Suku Anak Dalam?????, artikel dalam http://bukusumberilm.blogspot.com.
6.
Mengenal Musik Tradisional Melayu
Jambi, artikel
dalam http://azharjambi.blogspot.com














0 komentar:
Posting Komentar