"Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami, sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami."
RSS

Selasa, 25 November 2014

Musik Tradisi Sirih Layang Jambi

Check this out!!!

Latar Belakang Musik Melayu Jambi
Kalau kita berbicara tentang Jambi, daerah ini memiliki kekayaan seni budaya daerah yang beraneka ragam terutama tentang jenis musik tradisionalnya yang cukup banyak. Kekayaan ini disebabkan oleh sembilan Suku Melayu yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. Dari sembilan Suku Melayu ini terbagi atas dua bagian yakni: Suku Melayu Tua dan Suku Melayu Muda. Suku Melayu Tua terdiri dari tiga suku, yaitu: Suku Kerinci, Suku Batin, dan Suku Kubu. Sedangkan Suku Melayu Muda terdiri dari enam suku yaitu: Suku Melayu Jambi, Suku Bajau, Suku Penghulu, Suku Pindah, Suku Pendatang dan Suku Asing, seperti: Cina, Arab, Amerika, dan lain-lain. Dari pengaruh inilah, maka lahir berbagai macam bentuk musik tradisional di Jambi yang memiliki karakteristik bunyi yang khas dan berbagai bentuk instrument musik yang unik, seperti Rebana Sike yang jenis dap, Cangor yang di Kabupaten Kerinci disebut Ketuk Gong, sedangkan di Kota Sungai Penuh disebut Gumbe-Gumbe.

Dikarenakan Musik Jambi dihidupkan dan dikembangkan oleh suku-suku yang secara garis besar merupakan Suku Melayu, maka musik tradisional Jambi lebih dikenal dengan Musik Melayu Jambi.
Fakhrudin Saudagar  mengatakan bahwa Kebudayaan Melayu Jambi adalah salah satu contoh kebudayaan yang kaya dengan seni. Karena akar budayanya berbeda dengan  daerah lain, maka arah dan perkembangan kesenian Melayu Jambi berbeda pula dengan kesenian daerah lain. Karakteristik lokal Kesenian Melayu Jambi antara lain adalah :
1.             Menyatu dengan alam.             
2.             Minoritas kreatifnya warga masyarakat.
3.             Mayoritas kreatifnya adalah raja, pejabat kerajaan, dan masyarakat umum.
4.             Tema berkaitan dengan keindahan alam, penderitaan, cinta, perjuangan, persahabatan, ketidakadilan, kebahagiaan dan lain sebagainya.
5.             Melambangkan keriangan (gembira) lincah, sedih, semangat, sakral (mistik), dll.
6.             Kerajaan melindungi kelompok fungsional kesenian (kalbu pemayung).
7.             Tidak jelas pengarangnya.
8.             Berkembang dari dusun ke dusun dan dari mulut ke mulut.
9.             Penuh (sarat) pesan; pendidikan, aturan hidup, hiburan, dan lain-lain.
Ketika instrumen musik daerah Jambi ini dipadukan menjadi satu kesatuan unsur bunyi, dengan teknik komposisi yang baik, maka akan menghasilkan garapan musik yang baik pula. Untuk mencapai hasil tersebut, maka hendaklah mengenal terlebih dahulu instrument musik yang akan digarap.
Dari beberapa macam instrumen musik tradisional Jambi, yang lebih dominan di daerah Jambi adalah jenis pukul dengan sebutan lain perkusi. Di samping mudah dalam penggunaannya, bahan-bahan yang digunakan pun banyak terdapat di daerah Jambi. Seperti kayu, bambu, dan kulit hewan. Di antara alat-alat musik yang jenis pukul ini, terdapat beberapa instrumen yang dapat digunakan sebagai melodi seperti, kelintang kayu dan kromong. Dari instrument inilah kita temukan bahwa tangga nada musik tradisional daerah Jambi terdiri dari do, re, mi, sol, dan la. Pada jenis instrumen yang lain juga demikian, seperti nada-nada yang terdapat pada alat tiup yakni: serdam, serunai dan katete. (http://azharjambi.blogspot.com).


Latar Belakang Sejarah Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Salah satu musik yang hidup dan berkembang di daerah Jambi adalah Musik Tradisi Sirih Layang. Musik ini adalah musik hasil kebudayaan Suku Kubu, salah satu dari tiga Suku Melayu Tua.
Musik Tradisi Sirih Layang Jambi ini hidup dan dikembangkan oleh Suku Kubu. Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di Provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang. (http://id.wikipedia.org).
Kehidupan Suku Anak Dalam sangat dipengaruhi oleh aturan-aturan hukum yang sudah diterapkan dalam bentuk seloko-seloko yang secara tegas dijadikan pedoman hukum oleh para pemimpin suku, khususnya Tumenggung dalam membuat suatu keputusan. Seloko juga menjadi pedoman dalam bertutur kata dan bertingkah laku serta dalam kehidupan bermasyarakat Suku Anak Dalam.
Musik Tradisi Sirih Layang Jambi berisi bait-bait seloko. Seloko adalah mantra-mantra yang dilantunkan menjadi teks musikal. Berikut ini sepenggal mantra yang terdapat dalam Musik Tradisi Sirih Layang Jambi.(http://you-litha.blogspot.com).
Oooo... sirih Layang Jambi pinang Layang Jambi
Sirih kuning gagah merkah
Hati gilo dibuatnyo
Sirih kuning gagang kuning
Hati gilo dibuatnyo..
Biasanya musik ini disajikan bersamaan dengan tarian, yaitu Tari Sirih Layang Jambi Pekasih dalam Upacara Basale. Upacara ini merupakan upacara pengobatan tradisional yang bertujuan untuk membersihkan atau mengusir roh jahat yang dianggap sebagai sumber penyakit dari jiwa si sakit.

Latar Belakang Sosial Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Sistem kepercayaan Suku Anak Dalam adalah Polytheisme, yaitu mereka mempercayai banyak dewa. Dan mereka mengenal dewa mereka dengan sebutan Dewo dan Dewa. Ada dewa yang baik adapula dewa yang jahat. Selain kepercayaan terhadap dewa mereka juga percaya adanya roh nenek moyang yang selalu ada disekitar mereka. Selain itu, Suku Anak Dalam masih berpaham animisme. Mereka percaya bahwa alam semesta memiliki banyak jenis roh yang melindungi manusia. Jika ingin selamat, manusia harus menghormati roh dan tidak merusak unsur-unsur alam, seperti hutan, sungai, dan bumi. Kekayaan alam bisa dijadikan sumber mata pencarian untuk sekadar menyambung hidup dan tidak berlebihan. Hingga kini suku Anak Dalam masih mempertahankan beberapa etika khusus.
Perilaku Suku Anak Dalam atau Orang Rimba yang kubu atau terbelakang, dikarenakan nenek moyang mereka hidup di tengah hutan beratus-ratus tahun dan tidak mengenal peradaban. Kehidupan mereka sangat dekat dan bergantung pada alam. Karena tidak dekat dengan peradaban dan hukum modern, Orang Rimba memiliki sendiri hukum rimba. Mereka menyebutnya seloko adat. Identitas Orang Rimba yang tertuang lewat seloko, yang membedakannya dari orang terang – sebutan untuk masyarakat di desa. Seloko secara tegas dijadikan pedoman hukum oleh para pemimpin Suku dalam membuat suatu keputusan. Seloko juga menjadi pedoman dalam bertutur kata dan bertingkah laku serta dalam kehidupan bermasyarakat Orang Rimba.
Seloko yang muncul lewat mimpi juga memberi panduan mengenai hidup sosial di rimba. Aturan-aturan Orang Rimba memang tidak jauh dari Pucuk Undang Nang Delapan, yang dibawa dari minang. Aturan rimba sendiri melarang adanya pembunuhan, pencurian, dan pemerkosaan. Inilah larangan terberat, yang jika dilanggar akan dikenai hukuman 500 lembar kain. Jumlah kain sebanyak itu dinilai sangat berat, dan sangat sulit disanggupi, karenanya Orang Rimba berusaha untuk mematuhi. (http://delvinet.wordpress.com).

Penyajian Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Pertunjukkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi disajikan oleh enam orang pemain. Pertunjukkan ini dibuka dengan lantunan seloko, tanpa diiringi musik. Setelah itu diikuti dengan pemukulan gong, ‘penggoyangan’ arang ayun, serta penabuhan redap (gendang Melayu). Arang ayun, yakni alat yang berbunyi bergemerincing berbentuk bulat dengan warna hitam. Arang ayun terbuat dari tembaga. Arang ayun berfungsi untuk merangsang semangat budak (anak kecil yang sakit). Sedangkan redap adalah alat musik pukul, yang dimainkan dengan cara ditabuh pada saat pelaksanaan dalam Upacara Besale. Redap ditabuh oleh Malim Pembantu atau biduan yang berjumlah ganjil. Redap terbuat dari bahan kulit hewan kambing. Alat ini digunakan untuk mengiringi tarian dan mantra dalam Upacara Besale. Suara redap diyakini akan memanggil roh-roh leluhur.
Pertunjukkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi yang saya saksikan, ternyata berbeda dengan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi yang digunakan untuk mengiringi tarian Sirih Layang Pekasih, dimana Musik Tradisi Sirih Layang Jambi yang saya saksikan menggunakan beberapa tambahan instrument alat musik lain, seperti: gong, rebana,  kromong, dan suling. Sedangkan pada musik yang digunakan untuk mengiringi tarian Sirih Layang Pekasih hanya menggunakan instument berupa: redap dan arang ayun. Namun, dari segi irama dan ritme tidak jauh berbeda. Sedangkan seloko-seloko yang yang dilantunkan sama. Hal tersebut mungkin dikarenakan pertunjukkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi hanya berdiri sendiri sebagai pertunjukkan musik, jadi mesti ‘digarap’ sedemikian rupa, dengan harapan agar lebih menarik. Dan hal itu terbukti berhasil. Pertunjukkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi sangatlah menarik.
Pertunjukkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi juga didukung dengan adanya lighting yang menambah kesan mistik. Suasana panggung sangat menyatu dengan musik yang dimainkan dan seloko yang dilantunkan. Di samping itu, tata rias para pemain juga sangat mendukung kesan mistik. Wajah para pemain ber-make-up tebal dan berwarna putih serta tatapannya merupakan tatapan yang fokus dan melotot.

Fungsi Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Dalam keberagaman musik, Musik Tradisi Sirih Layang Jambi memiliki fungsi musik sebagai fungsi ritual musik, fungsi artistik musik,dan fungsi medis. Musik Tradisi Sirih Layang Jambi memiliki fungsi ritual maksudnya, musik ini dipergunakan untuk keperluan Upacara Besale, yaitu upacara pengobatan tradisional yang bertujuan untuk membersihkan atau mengusir roh jahat yang dianggap sebagai sumber penyakit dari jiwa si sakit. Kemudian, Musik Tradisi Sirih Layang Jambi memiliki fungsi artistik maksudnya, musik ini dipergunakan pula sebagai pendukung Tarian Sirih Layang Jambi Pekasih. Sedangkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi memiliki fungsi medis karena, awal kalinya adanya musik ini adalah sebagai media pengobatan Suku Kubu.
Ternyata semakin berkembangnya zaman, musik ini dapat berdiri menjadi musik pertunjukkan sendiri, tanpa perlu adanya tarian dan upacara. Namun, tetap saja, ketika musik ini berada di dalam area Suku Kubu, fungsi musik ini akan kembali seperti sedia kala.

Klasifikasi Jenis Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Musik dapat diklasifikasikan menjadi tiga klasifikasi, yaitu klasifikasi jenis musik berdasarkan unsur yang disajikan, klasifikasi jenis musik berdasarkan jumlah penyajinya dan perangkatnya, dan klasifikasi jenis musik berdasarkan latar sosialnya.
Berdasarkan unsur yang disajikan, Musik Tradisi Sirih Layang Jambi termasuk jenis musik campuran, karena musik ini menyajikan permainan alat musik dan vokal, dimana antara permainan alat musik dan sajian vokal menjadi satu kesatuan. Kemudian, berdasarkan jumlah penyajiannya dan perangkatnya, Musik Tradisi Sirih Layang Jambi termasuk jenis musik ansambel kecil, karena musik ini hanya disajikan oleh enam orang pemain dan enam jenis alat musik, yaitu: redap, rebana, gong, arang ayun, suling, dan kromong. Sedangkan berdasarkan latar sosialnya, Musik Tradisi Sirih Layang Jambi termasuk jenis musik kerakyatan, karena musik ini hidup dan dikembangkan oleh Suku Anak Dalam yang menerapkan budaya berburu, sistem barter, dan juga bercocok tanam untuk kelangsungan hidup mereka dan mereka termasuk suku yang menganut sistem hidup seminomaden karena kebiasaan berpindah-pindah yang mereka lakukan, yang tentunya hal tersebut sangat mencirikan keterkaitan kehidupan mereka dengan lingkungan alam.

Alat Musik yang Digunakan dalam Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Alat musik yang digunakan dalam Musik Tradisi Sirih Layang Jambi adalah redap, arang ayun, gong, kromong, rebana, dan suling.
Redap atau gendang Melayu Jambi memiliki karakteristik bentuk maupun bunyi yang khas, gendang ini terbuat dari bongkot kelapa dan kulitnya dari kulit hewan ternak seperti kambing. Jalinan  rotan berfungsi untuk mengencangkan kulit gendang tersebut. Gendang  dimainkan dengan cara dipukul menggunakan kedua tangan sambil dipeluk dalam posisi duduk. Agar bunyinya lebih nyaring pada lingkaran kulit bagian dalam dipasak dengan menggunakan rotan bulat disebut sentung.  Di Provinsi Jambi gendang ini lazimnya digunakan untuk polaritme lagu-lagu daerah serta pengiring tari, serta lagu-lagu melayu jambi.
Arang ayun, yakni alat yang berbunyi bergemerincing berbentuk bulat dengan warna hitam. Arang ayun terbuat dari tembaga. Ada dua jenis arang ayun, yaitu Arang Ayun yang berjumlah lima buah diletakkan di balai pengasuh, sedangkan yang berjumlah delapan buah di bawa menari oleh Sidi.
Gong terbuat dari logam pipih dengan benjolan di tengahnya. Instrument ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul yang terbuat dari kayu.
Kromong adalah alat musik tradisional Melayu Jambi yang terbuat dari campuran perunggu dengan jenis metal lainnya, dimainkan dengan cara dipukul memiliki tangga nada selendro digunakan untuk mengiringi tari dan musik tradisional Melayu Jambi.
Rebana adalah sebuah instrument musik yang terbuat dari kayu surian dengan menggunakan kulit kambing sebagai kulit tabuahannya, dan tidak menggunakan rotan yang dijalin pada pengencang kulitnya, melainkan paku penatah atau paku payung  yang dipakukan dibagian lingkaran kulit.
Suling merupakan instrumen ini yang terbuat dari bambu dan sudah terkenal dimana-mana, dimainkan dengan cara ditiup memiliki nada yang lengap dengan tangga nada diatonis, dan kromatis.

Klasifikasi Alat Musik Musik Tradisi Sirih Layang Jambi
Dalam setiap pertunjukkan musik, hampir sebagian besar menggunakan alat musik. Menurut Sach & Hornbostel, klasifikasi alat musik didasarkan pada sumber bunyinya, bahan pembuatnya, dan cara memainkannya.
Berdasarkan sumber bunyinya, alat musik yang digunakan untuk memainkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi, terdiri dari alat musik yang tergolong idiophone, membranophone, dan aerophone. Idiophone adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari badan alat musik itu sendiri, yaitu meliputi: gong, kromong, dan arang ayun. Kemudian, membranophone adalah alat musik yang menggunakan membran sebagai penggetar utama bunyinya, yaitu meliputi: redap dan rebana. Sedangkan, aerophone adalah alat musik yang memanfaatkan getaran udara sebagai sumber utama bunyinya, yaitu suling.
Berdasarkan bahan pembuatannya, alat musik yang digunakan untuk memainkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi, terdiri dari alat musik yang tergolong xilophone, metallophone, dan bamboophone. Xilophone adalah alat musik yang bahan pembuatannya berbahan kayu, yaitu meliputi: redap, rebana. Kemudian metallophone adalah alat musik yang bahan pembuatannya berbahan logam, yaitu meliputi: gong, arang ayun, dan kromong. Sedangkan bamboophone adalah alat musik yang bahan pembuatannya berbahan bambu, yaitu suling.
Berdasarkan teknik membunyikannya, alat musik yang digunakan untuk memainkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi, terdiri dari alat musik yang dipukul, ditiup, dan digoyang. Alat musik yang dipukul meliputi: redap, rebana, gong, dan kromong. Kemudian alat musik yang ditiup adalah suling. Sedangkan alat musik yang digoyang adalah arang ayun.

Kesimpulan
Secara umum pertunjukkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi yang saya saksikan sangatlah menarik. Semua unsur yang ada dalam pertunjukkan tersebut dapat melebur menjadi satu membentuk satu kesatuan yang penuh dengan keindahan. Para pemain telah berhasil membawakan pertunjukkan musik tradisi ini tanpa terlihat cacat sedikitpun.
Penyajian pertunjukkan yang berbeda dari musik yang lama telah ada merupakan suatu inovasi baru untuk membuat musik ini lebih menarik minat masyarakat untuk menyaksikan, apalagi anak muda yang menganggap musik tradisi terdengar monoton, lamban, dan bikin mengantuk. Di samping itu, musik ini pun dapat disaksikan tanpa harus kita pergi ke tempat Suku Kubu.
Kemudian, dengan semakin bervariasinya instrument musik yang digunakan semakin menambah keragaman musik tradisi ini. Dan itu nantinya dapat menggugah masyarakat bahwa Indonesia itu kaya akan seni budaya yang tentu saja harus dilestarikan. Walaupun semakin berkembangnya zaman, musik ini nantinya mungkin dapat berada di panggung-panggung berskala nasional maupun internasional, namun kita harus tetap mengetahui esensi dari musik ini.
Yang terakhir, besar harapan saya, dimana musik tradisi ini dapat dipertunjukkan di berbagai ‘temu-temu budaya’ di Indonesia, karena hal itu merupakan langkah awal dalam memperkenalkan Musik Tradisi Sirih Layang Jambi kepada masyarakat luas, namun, tidak lupa dengan musik tradisi-tradisi lain yang hidup dan berkembang di Indonesia yang juga harus kita perkenalkan. Jadi intinya, di setiap kesempatan kita harus mengenalkan budaya-budaya yang ada di Indonesia dengan harapan budaya-budaya tersebut dapat lestari dan berkembang.
  
Daftar Acuan
1.      Apa sich yang kamu tau tentang Suku Anak Dalam?????, artikel dalam http://bukusumberilm.blogspot.com.
2.      Ayo mengenal SAD, artikel dalam http://sukuanakdalamkreatif.wordpress.com.
3.      JAMBI - Kiprah Deddy Djaba Sjukri bersama Gendang Kubu, dalam http://you-litha.blogspot.com.
4.      Makalah Suku Anak Dalam Jambi, dalam http://delvinet.wordpress.com.
5.      Mencari Makna Seni Pertunjukan Indonesia, artikel dalam https://matramantra.wordpress.com.
6.      Mengenal Musik Tradisional Melayu Jambi, artikel dalam http://azharjambi.blogspot.com
7.      Provinsi Jambi, dalam https://matramantra.wordpress.com.
8.      Upacara Balase, dalam http://sukuanakdalamkreatif.wordpress.com.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar