Ini
pengalamanku dalam pencarian jati diri. Pengalaman ‘kelam’ yang tak ingin aku ulangi! Mungkin banyak diantara
kalian nanti yang mengangap aku sok. Tapi, dalam tulisan ini, aku hanya ingin
berbagi, bagaimana aku keluar dari belenggu ‘setan’ itu.
Sejak
sekolah dasar, sebenarnya aku sudah tahu dan paham betul mencontek itu tak
baik. Dan aku tak belum melakukannya. Hanya sekedar memberikan jawaban kepada
teman yang bertanya. Itu pun hanya karena terpaksa karena saat itu sedang Ujian
Nasional. Dalam hati hanya ingin aku dan mereka lulus bersama.
Kecuranganku
ini berawal ketika aku duduk di bangku SMP. Tapi anehnya, hanya pada satu mata
pelajaran, yang tak bisa aku sebutkan. Kurangnya penghargaan dari guru dan
kurangnya motivasi membuatku melakukannya. Bermula tatkala ulangan harian
berlangsung dan aku menyaksikan sendiri ada teman yang mencontek kala itu. Dia dari SD elit ternyata juga mencontek ya?
Pikirku saat itu. Ah, ya sudahlah.
Seminggu
setelah itu, hasil ulangan harian dibagikan dan aku mendapat nilai rendah. Saat
dipanggil dan menerima hasilnya, sang guru berkata, “Yang lain bisa dapat bagus
kok kamu enggak?!” Seketika itu aku tersentak, walaupun bukan aku satu-satunya
yang mendapat nilai rendah, bagiku itu umpatan halus yang sampai sekarang masih
membekas di benakku. Oke, kalau itu mau
guru, aku akan dapat nilai baik!
Sangat
disayangkan waktu itu, aku tidak ada pegangan sama sekali. Terlalu kabur dengan
apa itu pedoman hidup. Dan akhirnya saya masuk pada lubang itu. Lubang mencontek.
Selama kurang lebih dua setengah tahun, aku melakukan kecurangan itu. Namun,
aku tidak serta-merta hanya mencontek. Ada usaha untuk mencatat segala materi
yang di sampaikan guru. Dan aku hanya ingin mencontek menggunakan catatanku
sendiri.
Aku mulai
berpikir ulang mengenai kecuranganku manakala seorang guru mengatakan, “Kalau
saya jadi pengawas ujian di SMP *****, walaupun tingkat kelulusannya tidak
setinggi sekolah kita, tapi saya merasa enak. Tinggal kemana-mana nggak mungkin
ada yang mencontek. Soalnya dalam diri mereka sudah tertanam bahwasanya ketika
ada teman yang mencontek itu setan. Dan kalau saya ikut-ikutan berarti saya
juga setan. Lebih baik nggak lulus ujian dari pada saya harus menjadi ‘setan’.”
Kata-kata
itu sontak membuatku membatu. Berhari-hari aku berpikir. Langkah awal ketika
memutuskan untuk tidak mencontek lagi sangatlah berat. Hampir kembali terlena,
namun, ketika ingat kata-kata tadi aku menguat lagi. Dan berkomitmen untuk
tidak mencontek lagi.
Dan
alhamdulillah, aku mampu menjalaninya dengan bantuan dari Allah dan menjaga
komitmen. Di sini aku tidak menyudutkan pihak-pihak mana pun. Satu tujuan
utamaku: ingin merubah budaya ‘setan’
ini. Pun aku bukan ingin membanggakan diri tapi aku hanya ingin berbagi
sepenggal pengalaman kelamku dulu. Mari, bersama-sama belajar untuk senantiasa
memperbaiki diri.
Semoga
bisa menjadikan manfaat J















5 komentar:
nice nia :)
Aginia.. Maaf ya.. Now I know how it feels.. To be the honest one, and when the result is not good enough, I'm hurt.. Tapi memang itulah ujian yang sebenarnya, Allah ingin melihat bagaimana kesabaran kita, Allah sedang mengingatkan bahwa "hey kamu, usahamu masih kurang", Allah sungguh ingin melihat usaha kita.. Karena Dia pasti selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya yg mau berusaha.. Terima kasih agin, udah mau berbagi. Ajari aku nulis dong.. :D
Thanks melva :)
Terharu aku ana bacanya. Aku jg lagi belajar. Belajar sama sama yuks :)
Cieee temen temen akuu.. keyeen deh.
mungkin memang berat, ini adalah jalan perjuangan untuk mendapat ridho Allah.. apalah kita nanti jadinya tanpa ridho nya Allah.. saling menguatkan yaaa
Posting Komentar